Air Mata Kekalahan: “You are a Leader”
Seselesainya babak penyisihan terakhir itu, dia menurun tangga podium dan mencari tempat dimana aku duduk. Dia mengulurkan tangannya padaku, dengan mata berkaca-kaca karena butiran air mata yang jatuh, dia berkata: “Maaf enci”. Tangisnya berlanjut. Aku tersentak dan memahami apa yang ada di hatinya. Mata dan hidungnya memerah, terisak-isak karena kekalahan itu. Dia tak menyangka akan gugur di babak penyisihan terakhir itu. Air matanya terus jatuh menurun di pipinya. Aku pun menangis namun ku kuatkan hatiku dan ku kuatkan juga dia. Beberapa teman se-tim datang dengan wajah muram mereka. "Hei. why you cry? You have done the best. No worries . Ketika kenyataan tak sesuai harapan, di situ kita harus belajar untuk lebih bersandar kepada Tuhan”, kataku. Dia, Gaby mengangguk. Aku terus memegang tangannya sambil sesekali memperhatikan babak perlombaan di panggung. Sesekali aku melihat dia dan berkata: “You are a leader. You have done the best” . Saat menulis bagian ini pun air mataku...