HINENI KAN LESHERUT’CHA
Sehari menjelang ulang tahunku yang ke-31, aku tergerak menghubungi bapa rohaniku di Solo, Ko Henry Setiawan. Aku menceritakan posisi kehidupanku di Ambon sejak awal pindah bekerja di sini. Aku rasa ini waktu yang sudah ditetapkan Tuhan sebelumnya agar aku semakin diarahkan, diteguhkan, dan dicover untuk mengerjakan panggilan di kota ini. Aku share, dan setelah itu Ko Henry mulai menegaskan posisiku berdiri saat ini dan mengarahkan aku. Seorang bapa yang mendengar anaknya. Aku bersyukur. Sejujurnya, menjelang ulang tahun kali ini aku tidak banyak mengambil waktu khusus dengan Tuhan seperti di ulang tahun sebelumnya. Setahun yang lalu aku menangkap tentang urapan Yusuf: menghidupi banyak orang (khususnya anak yatim, piatu: baik jasmani maupun rohani). Visi itu kutangkap dalam masa doa 10 hari menjelang ulang tahun ke-30. Kali ini, aku menyambut ulang tahunku dengan doa di tanggal 15 April. Tidak banyak ekspektasi. Aku hanya merindukan agar mata rohaniku semakin dipertajam Tuhan, kesad...