6 Years : And I still learning?!

Perjalanan hubungan dua orang dengan latar belakang, suku,  dan budaya yang sangat berbeda bukan hal yang mudah. Banyak hal harus dimengerti tapi gagal dimengerti. Banyak kali ketulusan dan kasih diuji. Banyak kali gagal. Banyak kali kalah oleh ego. Banyak kali lemah dalam hal kasih dan pengorbanan.  Banyak kali pengorbanannya disia-siakan. I am still learning. Seperti doa pemazmur Daud setiap kali merasa bersalah di hadapan Tuhan: "Ya, Tuhan. Ampunilah aku..."

Kita tidak bisa mengerti pentingnya sesuatu dalam kehidupan sampai hal itu perlu dibayar mahal. Kekayaan ditemukan dalam pengorbanan. Hubungan yang bermakna memerlukan harga untuk dibayar. Jika isinya hanya berupa kenyamanan dalam kehidupan, kita tidak akan pernah membuka kekayaan Kristus yang tersembunyi dalam keistimewaan sebuah sebuah hubungan yang erat. Yesus dapat dan harus ditemukan dalam hubungan (Bill Johnson & Benny Johnson dalam buku Raising Giant-Killers).

Banyak kali hal ini sudah dipahami secara teori namun untuk menerapkannya dalam hubungan, itu bukan hal yang mudah. Aku dan si dia memiliki banyak sekali perbedaan. Dari hal-hal fisik sampai yang prinsip. Itu sebabnya banyak kali kami harus perang dingin. 

Aku punya satu kisah dengan Tuhan dan dia. Waktu itu aku memutuskan untuk menyudahi hubungan pacaran kami karena aku merasa tidak sejalan dalam pola pikir dan prinsip. Dalam masa-masa pertimbangan itu, tiba-tiba Tuhan ingatkan alasan mengapa aku memutuskan untuk membangun hubungan dengannya di tahun 2015 itu. Aku terdiam. Hubungan kembali baik. Hubungan kami berfluktuasi kayak saham.




Ini salah satu bentuk aku menghargai hubungan kami. Setiap moment spesial aku buatkan kartu ucapan untuknya dan menuliskan ayat-ayat Firman. Tujuannya kita semakin memiliki mindset yang selaras.

Setelah perang dingin yang berkali-kali ini, I think I have to reset my priority in this relationship. Ps. Rick Warren mengatakan "Jika kita hidup dalam terang kekekalan, nilai-nilai kita berubah." Aku sadar aku tidak sempurna dalam hubungan dan sangat butuh anugerah Tuhan agar terus bertumbuh dalam Tuhan lewat hubungan ini.

Rick Warren menulis dalam bukunya The Purpose Driven Life bahwa "hubungan yang paling penting dalam hidup, bukan prestasi atau harta kekayaan. Jadi, mengapa kita membiarkan hubungan mendapatkan sedikit perhatian saja? Ketika jadwal kita menjadi terlalu padat, kita mulai menyaring hubungan secara rasional, mengurangi waktu, tenaga dan perhatian yang diperlukan untuk menjalin hubungan yang dituntut oleh hubungan penuh kasih. Hal yang paling penting bagi Tuhan digantikan oleh hal yang mendesak. Kesibukan adalah musuh terbesar bagi hubungan. Kita menjadi sibuk dengan mencari nafkah, melakukan tugas, membayar tagihan, dan mencapai sasaran seolah-olah semua itu adalah tujuan hidup. Tetapi bukan demikian. Tujuan hidup adalah belajar mengasihi Tuhan dan manusia. Hidup tanpa kasih sama dengan nol (hal. 132-133). 

Doaku masih sama: Tuhan, giring seluruh hidup kami seperti domba-Mu untuk masuk dalam satu Visi Kerajaan-Mu. Amin.


Catatan mendadak di Gubuk Tua, Lahani.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018