HINENI KAN LESHERUT’CHA

Sehari menjelang ulang tahunku yang ke-31, aku tergerak menghubungi bapa rohaniku di Solo, Ko Henry Setiawan. Aku menceritakan posisi kehidupanku di Ambon sejak awal pindah bekerja di sini. Aku rasa ini waktu yang sudah ditetapkan Tuhan sebelumnya agar aku semakin diarahkan, diteguhkan, dan dicover untuk mengerjakan panggilan di kota ini. Aku share, dan setelah itu Ko Henry mulai menegaskan posisiku berdiri saat ini dan mengarahkan aku. Seorang bapa yang mendengar anaknya. Aku bersyukur.

Sejujurnya, menjelang ulang tahun kali ini aku tidak banyak mengambil waktu khusus dengan Tuhan seperti di ulang tahun sebelumnya. Setahun yang lalu aku menangkap tentang urapan Yusuf: menghidupi banyak orang (khususnya anak yatim, piatu: baik jasmani maupun rohani). Visi itu kutangkap dalam masa doa 10 hari menjelang ulang tahun ke-30. Kali ini, aku menyambut ulang tahunku dengan doa di tanggal 15 April. Tidak banyak ekspektasi. Aku hanya merindukan agar mata rohaniku semakin dipertajam Tuhan, kesadaran roh-ku semakin naik, dan strategi baru Tuhan berikan untuk berperang, mengerjakan panggilan di musim yang baru ini.

Seperti biasanya, pukul 00.00 WIT, aku ambil waktu pribadi untuk berdoa. Tiba-tiba muncul satu kalimat di depan mataku, dan aku mengucapkannya secara refleks: Hineni dengan Tuhan. Aku tidak mengerti banyak dengan kata ini tapi, aku mengerti ini tentang Tuhan. Kata ini pernah aku dengar dalam khotbah Ibu Ev. Iin Tjipto, tapi aku lupa maksud tepatnya apa. Aku melanjutkan doaku dan membaca Firman. Aku menanti-nantikan Tuhan di sepanjang hari ini.



Di pagi subuh, sekitar pukul 06.00, Erik meneleponku. Katanya dia sudah di depan rumah. Ternyata benar. Dia datang dan mengucapkan selamat ulang tahun. Yang membuatku terkejut dan sangat bersyukur adalah dia membawa ‘gitar yang terbungkus manis dalam tas ransel’. Aku refleks berteriak dan terkejut. Ini benar-benar di luar ekspektasi karena dia bukan orang yang suka memberi hadiah. Selama 6 tahun pacaran, dia tidak pernah memberikan hadiah di waktu ulang tahunku. Aku langsung ambil gitar itu dan bersyukur. Ku mainkan lagu “Terima Kasih Yesusku, buat anugerah yang Kau beri sebab hari ini kami adakan syukur bagi-Mu.”



Hadiah gitar. Bagiku, gitar itu melambangkan worship (penyembahan & persembahan). Pesan sederhana yang ak tangkap dari kado gitar ini: di musim yang baru ini aku harus banyak menyembah sebelum keluar berperang.

2 Samuel 5:17

Ketika didengar orang Filistin bahwa Daud telah diurapi menjadi raja atas Israel, maka majulah semua orang Filistin untuk menangkap Daud. Tetapi Daud mendengar hal itu, lalu ia pergi ke kubu pertahanan. Ketika orang Filistin datang dan memencar di lembah Refaim, bertanyalah Daud kepada Tuhan: “Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?” Tuhan menjawab Daud: “Majulah sebab Aku pasti akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.”

Kemenangan Raja Daud dalam peperangan demi peperangan itu karena dia mengandalkan kubu pertahanan ini.  Ini strategi utama bagi raja Daud dalam hidupnya. Aku menangkap bahwa hadiah gitar ini bukan sebuah kebetulan namun ada dalam persiapannya Tuhan. Gitar ini dibawa pagi-pagi ke rumah. Aku tahu ini strategi pertama yang Tuhan kasih untukku di musim ini. Harus masuk kubu pertahanan di pagi-pagi subuh sebelum keluar bekerja. Itu jadi kunci utama kemenangan Daud.

Kata ‘HINENI’ yang datang di tanggal 15 menjelang 16 itu juga membuatku merenung. Ternyata Hineni adalah perkataan jawaban yang mengekspresikan sikap hati menghamba dari seseorang yang dipanggil kepada pemanggilnya, baik pemanggilnya itu manusia maupun Tuhan. Lebih tepatnya, Hineni artinya ’Ini aku (Here I am)’.  Ungkapan yang menunjuk diri sendiri. Ini tentang mempersembahkan hidup secara radikal kepada Tuhan dengan rela dan siap. Aku teringat kisah Nabi Yesaya ketika mendapat panggilan Allah. Yesaya 6:8: Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “ini aku, utuslah aku”.

Di usia ke-31 ini aku juga menjawab seperti yang Nabi Yesaya jawab: Hineni, Tuhan. Ku serahkan seluruh ruang hidupku untuk Tuhan pakai demi mendatangkan kerajaan-Mu; menurunkan kehendak-Mu di bumi seperti di surga, di jurusan/fakultas/kampus tempat kerjaku seperti di surga, di keluargaku seperti di surga, di hubunganku seperti di surga, di komunitasku seperti di surga, di lingkungan rumahku seperti di surga, di jalan-jalan kota yang aku lewati setiap hari seperti di surga, di setiap instansi pemerintah maupun swasta di kota ku & di Indonesiaku seperti di surga.

Ini ada lagu bagus dengan judul HINENI:

Kulihat panggilan-Mu besar dalam hidupku Rasakan kuasa yang Kau b’ri tuk taklukan dunia Denganmandat otoritas dan Tuhan di sisiku. Tak ada jalan yang tertutup bagiku. Namun kusadari hanya kerendahan hati yangsanggup menjagaku tetap di jalan-Mu. 

Hineni Ini aku Tuhan. Buatku mengerti arti dari kerendahan hati. 

Hineni. Jaga hati ini. Ingatkan aku hanya budak Yang mengabdi dengan cinta

Terima kasih untuk pesan-Mu di usia 31 tahun ini, Tuhan. Hineni, hineni. Aku siap, Tuanku. I am ready, my Lord! Happy 31th birthday to me. 

 Lukas 17:10

Demikian jugalah kamu, apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.


HINENI KAN LESHERUT’CHA: HERE I AM TO SERVE YOU!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018