"Secuil" Share
Hidup memang penuh pilihan dan setiap pilihan sudah pasti memiliki konsekuensinya. Jika tidak hati-hati maka kita akan "jatuh terpelanting" akibat keputusan yang sudah kita ambil. Satu hal yang mau saya share di sini adalah utamakan Tuhan dalam semua keputusan kita. Tuhan senang atau tidak jika saya memilih keputusan ini. Jika Tuhan senang (red: setuju/mau) maka ada damai sejahtera yang luar biasa yang kita rasakan. Jika kita belum merasa damai sejahtera maka tunggu dulu, berdoa dan tanya Tuhan lagi dulu, minta kepekaan dan tanda dari Tuhan agar kita dapat mengerti kesenangan dan mau-Nya Tuhan.
Sekarang, saya sementara berada di lahan (red: kota) yang baru setelah sekian lama saya hidup dan bertumbuh di lahan yang sebelumnya. Peperangan rohani yang saya hadapi di lahan yang lama dan yang baru ini sangat jauh berbeda. Bukan besarnya peperangan yang harus jadi fokus kita tetapi kekuatan yang kita punya untuk berperang. Dan saya mengaku lemah saat ada di dalam peperangan di tempat ini. Saya belum bisa "berkomunitas" dulu karena satu dan lain hal, saya pikir ini karena panggilan untuk mengerjakan keluarga terlebih dahulu. So almost a year I should spent my time for family. So many things I experienced here. How to manage time wisely (between teaching and care for family), how to keep in touch with God in my busy, how to keep sincerely in everything I did. Everything we do should based on LOVE. Ada satu kata bijak yang saya baca pagi ini dari status salah seorang teman (kakak) saya:
"Tidak penting seberapa banyak hal yang sudah kita lakukan bagi orang lain, yang terlebih penting adalah seberapa besar kasih yang kita curahkan."
Tempat kita melayani tidak hanya di luar sana (jalan, sekolah, kampus, desa-desa terpencil, pulau-pulau, dll). We could start it from our family. I learned and I saw that people need the Lord. Everywhere. Not only out of the buildings but also in our home. We should be the light in everywhere we stand! Note it! The Light rare to speak up. It is just burned out so that people can see the way. The Light did sacrifice. God wants us to be the Light; burned our for people's need.
Sacrifice (red: pengorbanan) ==> hidup untuk orang lain, untuk kepentingan orang lain, untuk kebutuhan orang lain. Pengorbanan yang paling dalam tampak dalam diri Yesus. Makna hidup-Nya adalah bukan hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain.
First is God, the second is others, last is me.
Jangan jadi seperti dunia. Tetapi ubahlah dunia melalui cara hidupmu. Dunia membutuhkan orang-orang yang cara hidupnya berbeda dari yang biasanya. Melawan Arus. Anti Mainstream. Lihat hidup Yesus yang benar-benar melawan arus. Kalau dunia egois, kita mengasihi orang lain. Kalau dunia fokus pada materi, kita harus fokus pada isi kebenaran. Kalau dunia fokus pada kesuksesan, kita harus fokus pada melayani orang-orang lemah. Kalau dunia suka menggosip, kita harus membawa kabar sukacita yang menghadirkan damai sejahtera. Well. Jangan jadi seperti dunia!
If you are different, you will be a magnet that pulls other's attention. The World looking for you. The World curious with you. On the sly, they need to live like yours. It named LIGHT.
So what?
Live like the truth said. You will alive forever.
Minahasa, September 3rd, 2016.
Kind regards
Komentar
Posting Komentar