Kolam Ikan

Salah satu syarat menjadi murid Kristus adalah melepaskan hak untuk dihargai. Artinya tidak menuntut dihargai oleh siapapun, dalam bentuk apapun. Kemarin, hari Sabtu mengambil waktu sharing dengan Ace di kostnya. Kami Share tentang kehidupan kerohanian, kehdupan di tempat kerja, dan rekan kerja yang ada dengan karakter yang begitu beragam. Salah satu temannya sakit hati dengan instansi di mana mereka bekerja ini. Alasannya karena dia merasa tidak diharga oleh rekan-rekan sekerjanya. Katanya di waktu mamanya meninggal, hanya dua rekan kerja (bagian tertentu) yang utus untuk mengambil bagian di rumah duka. Dia kepahitan dan memutuskan untuk sakit hati dengan mereka. Secara manuawi hal ini wajar. Namun, lebih baik meresponi setiap kejadian dengan menengadah ke atas. Tuhan bukan saja lebih tahu yang terbaik, namun Tuhan tengah membentuk pribadi kita. Saya selalu meyakini hal ini “tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan”, atau semua hal yang terjadi selalu punya alasan di baliknya. Jika kita memutuskan untuk sakit hati, kita kehilangan arah untuk menemukan alasan apalagi makna di balik suatu kejadian.

Sharing kami berlanjut, dan tiba-tiba saya ingat rekaman khotbah bertahun-tahun lamanya yang pernah saya dengar. Kalau tidak salah ketika saya baru bertobat, sekitar tahun 2012. Khotbah Bapak Ev. Yusak Tjipto (Alm.). Beliau mengatakan, salah satu syarat menjadi murid Kristus adalah melepaskan hak untuk dihargai. Kalimat ini saya ulangi kembali seperti sebuah permata yang saya dapatkan. Tiba-tiba. Dan saya tahu ini fungsi Roh Kudus, firman yang me-rhema itu atas pertolongan kuasa Roh Kudus. Saya dan Ace kembali merenungkan, bahwa Tuhan punya rencana khusus untuk kita ketika kita ditempatkan di suatu ladang kerja. Ingat: kalau memilih sakit hati, kita akan kehilangan jalan dan cara untuk menemukan makna di balik sakit hati itu.
Kalimat ini terus terngiang dalam hati. Dan pagi ini, saya mengalami suatu kejadian yang tidak enak. Masih pagi namun sudah terjadi. Namun kembali ke keyakinan tadi bahwa, tidak ada sesuatu yang kebetulan terjadi. Milih sakit hati? Tidak lah. Milih responi dengan positif aja. All things running well.

Jadi ingat catatan pribadi teman pergerakan kami, Rani (lupa tahun berapa itu), namun masih membekas hingga sekarang. Hati itu ibarat kolam. Jika kolam itu bersih, tidak ada ikan, sampah, dll maka saat kita memancing di kolam itu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Namun jika yang di dalam kolam itu isinya ikan, sampah, dll maka saat kita mancing yang keluar kita dapat pasti ikan atau sampah tadi. Artinya apa? Jika di dalam hati kita masih ada kepahitan, kebencian, kemarahan, iri hati, menuntut balas, dll, maka saat dipancing sedikit aja (teman sentil sedikit aja), langsung meledak. Di saat kita diproses, jangan sampai keluar kata-kata tidak sehat dari mulut kita. Seperti Daud yang senantiasa menyembah Tuhan dalam segala keadaan, lakukan jugalah itu.

Satu lagi kecenderungan manusia jaman sekarang adalah menuntut dihargai. Sebenarnya kalau menutut dihargai apa sih untungnya? Kita sudah berharga kan? Ngapai kita menuntut dihargai lagi? Ada yang salah di dalam diri. Jangan sampai karena kita memiliki posisi jabatan yang tinggi, karir yang lebih baik, kehidupan materi yang mapan, bahkan usia yang lebih tua, kemudian kita meminta untuk dihargai perasaannya, dijaga perasaannya. It is OK, but aku yakin tipe orang yang menuntut seperti ini, tidak memiliki rasa hormat kepada orang lain. Simple! Mengapa? Karena dia merasa kurang “harga”, kurang “hormat” sehingga dia membutuhkan itu dari orang lain. Dia aja gak punya, mana bisa mau ngasih ke orang? Intinya, lepaskanlah hak untuk dihargai, biarkan Tuhan yang bersinar di dalammu.

Ingat tokoh Yusuf. Diproses Tuhan kurang lebih 13 tahun untuk menduduki jabatannya di Mesir karena ijin Tuhan. Yusuf taat. Bahkan pernah dipasung juga di dalam penjara. Ketika saatnya dia naik menduduki jabatan, apakah dia menuntut untuk dihargai oleh rakyat atau keluarganya? Tidak! Tidak lagi! Dia sudah terbiasa hidup dalam pergumulan, dalam proses, dalam kesulitan, dalam kerendahan, sehingga dia lebih berpikir untuk bagaimana melayani dan menghargai rakyat, keluarganya, dll. Hasil seperti ini keluar pada saat dia menjabat. Buktinya adalah ketika dia mengampuni saudara-saudaranya yang dahulu menyakitinya tanpa merasa sakit sedikitpun. Dia malah menangis :'( Bayangkan, jika Yusuf sakit hati apa yang terjadi? Tentu dia akan kehilangan cara untuk menemukan alasan di balik peristiwa tidak enak itu. Namun karena dia pribadi yang dekat dengan Tuhan, Dia dipenuhi hikmat dari Tuhan sehingga dia memilih taat pada Janji Tuhan.
Hari ini, saya menulis renungan ini atas suatu gesekan yang terjadi pagi tadi dan membuat saya menangis lagi, hanya karena si doi minta untuk menjaga dan menghargai perasaanya. Saya diingatkan tentang kesabaran dan menjadi terang J. Ternyata tidak kebetulan khotbah2 yang mendengung di gereja belakangan ini. Hari ini saya harus mempraktekkan itu. Well, God. Cuman segini aja kok ya repot JJJ Anak2 Tuhan jangan baper ya.  

“... Yesus memilih taat bahkan sampai mati di kayu Salib ....”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018