Ini Egois atau Apa?
Sebagian manusia terlalu gampang
mengambil keputusan yang menyenangkan diri mereka sendiri dan terlalu mudah
mengabaikan orang lain yang sebenarnya lebih dan sangat lebih membutuhkan
pertolongan!
Akh, entahlah! Ini kehendak Tuhan
atau apa?
..........................
Maria, seorang anak yatim. Di usianya yang masih 11
tahun, ayahnya dipanggil Sang Khalik karena menderita sakit paru. Semenjak
ayahnya meninggal, dia harus menumpang di rumah bibinya (bukan bibi se-kandung
ayah atau ibunya). Ayahnya pergi meninggalkan sebuah rumah beton berisi
beberapa perabot sederhana. Karena mempertimbangkan keadaannya yang baru
duduk di kelas 1 SMP, Maria diputuskan untuk menginap di rumah bibi Rani yang jaraknya
lumayan jauh dari rumahnya sendiri.
Malam itu (24 Agustus 2017), setelah ayahnya
dimakamkan, keluarga pun duduk bersama untuk membahas rencana ke depannya,
secara khusus untuk Maria. Dengan siapa Maria harus tinggal? Siapa yang akan
memperhatikan studi dan perkembangannya. Pasti ada yang bertanya-tanya,
memangnya di mana ibunya atau keluarga dekatnya yang lain?
Kira-kira empat tahun lalu (2013), di waktu Maria
berusia 7 tahun, ibunya pergi meninggalkan rumah. Yang tersisa di rumah hanya
ada Maria, Aldy (kakaknya), ayahnya, dan neneknya. Beberapa bulan berselang,
ibunya diam-diam datang ke rumah dan mengambil dan membawa pergi si kakak, Aldy.
Saat itu, di rumah hanya ada Maria dan sang nenek. Ayahnya sementara kerja,
mengayuh pedal becak di daerah perkotaan. Aldy tidak mengetahui maksud ibunya
mengajak pergi. Dia tau bahwa dia hanya diajak pergi sementara, namun ternyata
tidak. Ibunya membawanya pergi dan tidak kembali lagi ke rumah itu. Sampai
sekarang.
Sang nenek terus kepikiran akan sang cucu, Aldy. Beliau
harus menangis setiap hari, sambil memanggil-manggil nama sang cucu. Melihat
keadaan ini, Kak Nia (30), masih keluarga dekat dengan sang nenek, memutuskan
untuk mengantar nenek ke rumah keluarga menantunya (ibunya Maria dan Aldy).
Tempat tinggal mereka cukup jauh sehingga harus menumpang bus kota dua kali.
Mereka tiba di tempat tujuan, namun tidak menemukan Aldy ataupun ibunya di
sana. Mereka kembali dengan cemas, nenek tampak sangat bersedih. Kak Nia
mencoba menghibur nenek dan mengajak kembali pulang ke rumah.
Waktu berjalan tanpa ada kabar dari sang ibu dan
Aldy. Ayah memendam kecewa dan marah yang begitu dalam kepada ibu. Mereka
meninggalkan rumah tanpa pesan apa-apa! Mungkin ada masalah keluarga yang
memicu hal ini, namun mana ada keluarga yang hidup tanpa masalah? Sang nenek
jatuh sakit. Selama dua tahun beliau menjadi semakin kurus, dan pikun. Beliau
menutup usia tanpa melihat wajah sang cucu kesayangannya. Sedih. Mungkin
sakitnya itu juga dipicu oleh kepergian cucunya yang entah ke mana bersama
ibunya. Ayah pun jatuh sakit, miris, dan menutup usia di tanggal 24 Agustus
2017 di salah satu RS di kota itu. Sedih mendengar kabar ini.
Sekarang Maria sendiri di rumah. Dia diangkat oleh bibi
Rani untuk tinggal di rumah bibi dengan kesepakatan bahwa dia harus pindah
sekolah ke luar kota mengikuti Kak Tia (adik perempuanya kak Nia (27). Tia
tinggal bersama mertua dari kakaknya yang sulungnya (Jan) dan bekerja di kota itu
sebagai seorang pengajar. Kak Tia sering menelepon Maria untuk menanyakan kabar
sebelum ayahnya meninggal. Dia juga mengirim uang untuk keperluan sekolahnya
Maria. Hal ini mungkin yang memicu ayahnya untuk meninggalkan pesan sebelum
pergi, bahwa Maria harus ikut kak Tia di mana saja kak Tia tinggal.
Saat ini, Maria sementara diproses untuk pindah sekolah
ke kota di mana kak Tia bekerja. Sementara Kak Tia mengurus segala sesuatunya, ibu
mertua dan kakak iparnya keberatan. Mereka tidak setuju jika Tia harus pindah
rumah. Alasannya karena cucu dan anaknya, Rina tidak ada yang mengantar-jemput
ke sekolah. Kak Tia sedih dan bergumul dengan perdebatan itu. Memilih antara
peduli terhadap Maria yang adalah anak yatim (gak ada siapa2 lagi), atau
terhadap si Rina, anak usia 5 tahun, yang punya orang tua, bahkan baby sitter dan kakek, nenek. Lengkap.
Fasilitas hidup pun lengkap. Kak Tia
sungguh bingung dan bertanya dalam hati, ini tipe egois atau apa? Mengabaikan
anak yatim karena cucunya dan anaknya harus diperhatikan. Kak Tia sunggu sedih
dengan setiap pertimbangan ibu mertua dan kakak iparnya ini. Entahlah. “God tolong”. Ini yang didoakannya
berkali-kali dalam hati. “How’s Maria? Who will cares
for her?” Tia always think about her.
Namun di balik semua itu, khotbah2 di gereja selalu
meneguhkan kak Tya. “Put your self in the
last place”. Setiap hari minggu, kak
Tya tidak pernah alpa di dalam kebaktian. Dia berusaha mencari kehendak Tuhan untuk setiap kondisi yang sementara dialami. Dia bahkan mencatat semua nasihat
Firman Tuhan yang disampaikan Pendeta. Dia terus berdoa dan setiap bulan mengirim
uang bagi kebutuhan Maria di kota seberang, yang masih menumpang di rumah bibi
Rani.
Hasil dari doa kak Tya, akhirnya Bibi Rani bersedia
tinggal dengan Maria untuk satu semester berjalan, menunggu hingga kak Tya
menyelesaikan setiap perdebatan yang ada dengan mereka-mereka yang di sana. Some people said this is egoism but kak Tya
always believe that everything is under God’s control. Maria diperhatikan dengan penuh kasih oleh bibi Rani. Praise God!
.......................................
Saudaraku, Yakobus 1:27 berkata:
“Ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah
mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga
supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia”.
Yesus menghendaki kita untuk mengasihi semua orang, tidak terkecuali
anak-anak yatim / piatu, dan jangan terlalu mengasihani diri kita sendiri karena makna hidup yang sebenarnya adalah ketika kita berbagi hidup dengan orang lain, apalagi anak yatim/piatu.
Tuhan Yesus Memberkati kita semua.
- Salam Kasih -
Komentar
Posting Komentar