Thanksgiving : Ungkapan Syukur atau Tradisi Semata?

Siang tadi...
'Ines, kita so beli babi utang tiga kilo, ayam lima kilo, erwe tiga kilo, paniki lima kilo neh, yang laeng nanti sabantar baru mo beli ulang di freshmart"....
Penggalan informasi yang ku dengar sore ini dari seorang ibu kepada asisten di dapurnya.

Bagi orang Sulawesi Utara 'Pengucapan (thanksgiving)' telah menjadi satu tradisi yang ditunggu-tunggu bak Natal. Pengucapan diyakini sebagai suatu bentuk ungkapan syukur masyarakat atas berkat dan kemurahan Tuhan bagi hidup mereka. Hari pengucapan selalu jatuh tepat di hari Minggu. Seluruh masyarakat sangat antusias menyambutnya. Tak heran jika harinya tiba, jalanan macet total, seluruh supermarket dan pasar tradisional penuh sesak dengan orang-orang yang berbelanja. Belanjaannya tidak tanggung-tanggung, teman-teman. Mereka tidak segan-segan merogok kantong habis-habisan demi tradisi ini. Tidak percaya? Yuk, datang ke Manado! Amati sendiri, haha.
Itulah mengapa Kota Manado ini termasuk kota dengan angka pertumbuhan ekonomi di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu alasannya adalah daya beli (tingkat konsumsi) masyarakatnya begitu tinggi. Pengucapan inipun turut mendorong inflasi untuk beberapa komoditas seperti bawang, rica, dan tomat. Ada tambahan pendapatan bagi petani bawang rica tomat juga ini :).

Bagi masyarakat setempat, pengucapan adalah jembatan silaturahmi antaranggota keluarga, antarrekan kerja, antarkelompok masyarakat. Masyarakat akan saling undang untuk makan bersama di rumah-rumah mereka. Keluarga, sanak saudara dari kota dan desa lainpun akan datang. Yah, bak mudik gitu lah. Mereka sama-sama mengucap syukur kepada Tuhan, Raja dan Pemilik Hidup mereka, ya Pemilik Hidup kami semua insan di bumi.

Menu yang tersaji di meja bermacam-macam. Daging babi, babi utang, daging anjing, daging ayam, kelelawar (paniki), daging bebek, daging tikus tanah, hingga daging ular (patola). Hehehehe. Banyak kan? Bagi teman-teman yang mau coba, mari jo ka Manado :D

Ngomong-ngomong masyarakat di sini sangat antusias dengan tradisi ini. Mereka tidak segan-segan mengundang siapa aja untuk mengunjungi rumah mereka. Bagi mereka kedatangan tamu itu seperti berkat.

Sejak 2016 aku mengikuti tradisi ini. Bagiku ini unik. Kota-kota lain sepertinya tidak ada tradisi ini. Atau mungkin ada, tapi aku sendiri belum tahu. Maafkan :)

Yah bagiku, sesibuk-sibuknya kita dalam menyambut dan merayakan 'pengucapan' ini, jangan sampai kita lupa esensinya :
1. Mengucap syukur kepada Tuhan;
2. Berdoa buat kota kita ini agar Tuhan terus menyatakan kemurahan-Nya.

Selamat ber-pengucapan, warga kota Manado.

"I declare revival over Manado, revival over Sulawesi Utara..."

- seorang perantau di kota ini -
🤗

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018