Berdarah-Darah di Marketplace

Peperangan di marketplace membutuhkan kekuatan hati yang besar. Jika tak kuat hatinya maka respon yang muncul bisa jadi kepahitan, saling benci, dan lama-lama hal itu menjadi seperti bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu.

Kisahku bekerja di sebuah kampus swasta.
Awal menginjakkan kaki di kampus ini aku harus menangis sampai beberapa waktu lamanya karena tidak ingin berada di situ. Secara pribadi aku tidak ingin. Namun, ada satu waktu di mana Tuhan membawaku bertemu dengan seorang mahasiswa bernama Liny, berbadan kecil, asal Luwuk, pekerja di Catering, tinggal dengan majikannya, dia harus membiayai sekolah adiknya, dan dia punya kemampuan akademis yang pas-pasan. Waktu itu ujian tengah semester Sistem Informasi Akuntansi. Bukannya jawaban yang dia tulis di lembar kerjanya tetapi beberapa paragraf berisi keluhan hidupnya. Aku tersentuh membacanya. Aku tahu hari itu Tuhan berbicara kuat di hatiku: 'ini alasan mengapa kamu harus ada di sini'... Aku menangis....

Waktu berlalu, aku bertemu dengan banyak mahasiswa yang serupa. Mereka memiliki keterbatasan keuangan namun niat untuk berkuliah. Ada yang harus bekerja sebagai baby sitter dan driver go-jek, driver grab. Namun, tak sedikit juga yang harus berhenti kuliah di tengah jalan karena kondisi keuangan.

Inilah alasan yang datang menemui aku ketika aku 'mengeluh' kepada Tuhan: "mengapa harus membawaku ke kampus ini". Aku temukan alasan ini di tahun 2017. Setahun perjalananku 'mengeluh' barulah Tuhan membuka mataku. 

Aku mulai menaruh hatiku di kampus kecil ini. Semua hal kecil yang dipercayakan, kukerjakan semaksimal mungkin, termasuk membimbing mahasiswa di kelas. Alhasil, ada beberapa mahasiswa yang begitu akrab dan saat sudah lulus dan bekerja pun mereka selalu menghubungiku, sharing tentang pekerjaannya dan kehidupannya. Ada perasaan sukacita yang besar yang aku rasakan. 
Salah satu hal yang sering dibagikan adalah tentang sikap hidup rekan kerja di marketplace yang sering menceritakan orang lain di belakang orang ybs. Aku mengingatkan untuk tidak perlu masuk dalam percakapan-percakapan yang isinya tentang orang lain dan jadilah terang di tempat kerjamu. 
Kita perlu berhati-hati dengan keadaan di marketplace. Marketplace bisa menjadi ancaman bagi hidup kita jika kita salah respon, misalnya memilih untuk menggosipkan rekan kerja lain, memilih untuk berleha-leha dengan pekerjaan kita, memilih untuk membangun tembok pergaulan, memilih untuk menyimpan amarah & kekecewaan di hati.
Lebih baik kita membangun dan mengajar. Instruct and Teach.

Nilai yang aku pelajari: 
Ketika kita terjun ke marketplace itu berarti harusnya kita sudah selesai dengan diri kita dan kita harus fokus pada jiwa-jiwa. Kasihi mereka, taburlah benih kebenaran, teladan, kasih kepada mereka, meskipun kau harus berdarah-darah. 
Akh, Tuhan :'( Ampuni aku...

Lagu:
Berikan ku hati seperti hati-Mu.



Komentar

  1. Wihhh kak paskaaa, tersentuh sekali baca tulisan ini. Semangat yaa kak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018