Kerinduan Hati Bapa

Percayakah kita bahwa hidup kita ini bukan tentang kita tapi tentang kerinduan hati Bapa?
Sesungguhnya akan ada sukacita Ilahi yang kita rasakan ketika kita mengerti kerinduan hati Bapa. Perjalanan kerohanian kita akan selalu naik turun. Itu pasti. Karena kita masih manusia (daging). Namun ketika kita sadar dan menyerahkan hidup sepenuhnya dalam kendali Tuhan maka ada tuntunan Ilahi yang berjalan bersama-sama dengan kita. Apapun pekerjaan/profesk kita, ayo sama-sama cari kerinduan hati Bapa di tempat kerja kita itu, percayalah tuntunan Ilahi akan kita rasakan.

Ini yang aku rasakan belakangan ini. Sejak 4 tahun yang lalu ketika aku mulai bekerja di kota ini, aku punya kerinduan untuk bertemu dengan komunitas rohani yang bisa menjaga hidupku. 3 tahun berlalu, aku tak menemukannya. Aku berjalan dalam kelelahan setiap hari, meskipun aku juga saat teduh setiap hari, melakukan disiplin rohani juga. Namun rasanya kita tetap butuh komunitas untuk membangun kehidupan kita dari dalam (secara spirit). Aku ingat di tahun kedua aku ada di Manado (2017), tepat di hari ulang tahunku (ultah ke-27), aku hanya minta Tuhan pertemukan aku dengan komunitas rohani yang tepat di kota ini. Tuhan baru menjawab itu di tahun 2019. Aku bertemu dengan seorang mahasiswaku yang sekarang sudah seperti adik sendiri (Deysi Dalope alias Cici). Kami banyak sharing dan singkat cerita dia memperkenalkan aku dengan komunitas yang namanya Connect Group. Aku bersyukur. Aku mulai komitmen untuk bertumbuh di sana. Seiring berjalannya waktu, hatiku ditarik Tuhan lebih lagi. Aku mulai mendapati bahwa ada banyak orang yang sama sepertiku di awal aku datang ke Manado. Orang yang kesepian (secara rohani) dan butuh komunitas. Aku mulai berpikir apa yang bisa aku lakukan. Awalnya, aku hanya berdoa sendiri (doa di kampus, di kost, di jalan), namun sekarang Tuhan gerakkan untuk doa di kost bersama adik2 kostku. Kami dilawat Tuhan ketika berdoa bersama. Kami mulai saling sharing dan menguatkan. Aku percaya pemulihan hati itu terjadi di ruang doa, apalagi ketika kita ditopang oleh saudara-saudara seiman. Tuhan mengerjakan sesuatu di sana. 

Sama kisahnya seperti Petrus dan murid-murid lainnya yang berdoa di loteng Yerusalem setelah Yesus terangkat ke Sorga. Waktu itu murid-murid ditinggalkan (secara fisik) oleh Yesus (Kisah Para Rasul 1:12-14). Pasti ada perasaan sedih di dalam hati mereka. Namun mereka mulai bertekun, bersehati dan berdoa. Mereka telah mengerti banyak hal karena selama ini Tuhan Yesus telah menunjukkan kepada mereka bagaimana caranya berdoa, melayani orang, dan lain sebagainya. Mereka mendapatkan strategi baru oleh tuntunan Roh Kudus dan mulai melakukan penginjilan ke luar. 

Pagi ini saya dapat tentang: Di mana ada kesatuan hati dan ketekunan berdoa maka di sana akan turun tuntunan Ilahi. Tuntunan yang merobek hati kita sehingga kita mulai tidak peduli dengan kepentingan diri kita lagi tapi kita mulai hancur hati ketika melihat orang-orang yang belum mengalami Yesus secara pribadi. Mengalami Yesus itu pribadi. Masuk gereja setiap minggu tidak menjamin kita mengalami Yesus. Pengalaman dengan Yesus membuat murid-murid memutuskan untuk naik ke loteng Yerusalem (rumah tempat mereka menumpang) dan berdoa di sana. Setelah berdoa, mereka langsung menginjil ke seluruh kota itu (kota Yerusalem) dan sampai ke kota-kota lain juga. 

Kerinduan hati Bapa akan merobek hati kita yang keras untuk jadi seperti yang Bapa mau. Bapa mau kita semua mengalami kasih-Nya. Kasih yang sejati. Kasih yang menerima kita apa adanya. Kasih yang selalu memberi dan tidak menuntut. Kasih yang mau mengampuni. Alami kasih itu, Saudaraku maka hidupmu pasti tak akan sama lagi dengan sebelumnya.

Yesus Tuhan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018