Perjalanan Hati

Panas terik siang ini. Waktu menunjuk pukul 12.05 WIT. Aku bergegas mengangkat ranselku, tas sampingku, dan sepaket kardus penuh ikan asin. Aku harus berangkat ke kota Tinutuan hari ini. Menyelesaikan semuanya dalam perkenanan Tuhan. Ina mendoakan perjalananku. Netty juga ikut. Ika sudah lebih dahulu menemui sang driver grab. Aku berpamitan dan meninggalkan rumah. 

Aku berangkat naik grab menuju bandara. Setiba di bandara kuangkat tasku menuju ruang tunggu. Orang berkerumun memasuki tuang check in. Aku masih menanti kedatangan pacar bersama teman kantornya. Mereka datang dengan membawa 'roti kaya' dalam bungkusan sedang. Tak lama kemudian, aku harus berpamitan dan menuju ruang check in. 

Di sinilah pentingnya.

Sebelum aku keluar kamar tadi, aku berdoa. Aku tertunduk diam penuh syukur. "Terima kasih, Tuhan untuk jawabannya". Aku mulai tahu bahwa ini sesuatu yang serius. Suara yang ku dengar di Desember 2019 itu bukan sembarang suara. Aku harus bersiap. Pagi tadi kuambil waktu teduh sejenak sebelum menuju bandara. Suara itu kembali mengingatkan: 'selamat menempuh perjalanan ini. Sambil berjalan, kapasitas hatimu harus terus naik.'

Benar adanya. Setiba di Bandara tadi ada kejadian yang membuatku malu pada diri sendiri. Kardus berisi ikan asin tadi harus masuk ke bagasi sesuai arahan petugas. Aku mengabaikannya. Kuambil seluruh barang bawaanku dan berjalan menaiki eskalator menuju gate 3. 

"Bu, Bu. Kartonnya dibawa ke meja check in, ya! Harus dimasukkan ke bagasi". Tegur Ibu Petugas Bandara. 

"Oh ya, Bu. Tapi sebentar lagi jadwal penerbanganku", tandasku.

"Tidak mengapa, karena pesawat juga belum masuk. Kalau ibu tidak masukkan ke Bagasi nanti kami ditegur. Soalnya ikan asin itu bau amis", Beliau menjelaskan.

"Oh baik, Bu", ku merespon sambil berjalan menuju meja check in. Aku mulai kesal. 

Ini pengalaman pertamaku berangkat dgn membawa ikan asin. Dalam kekesalanku mengurus bagasi dan pembayarannya, suara itu kembali datang. "Ingat, dalam perjalanan ini kapasitasmu harus naik"... Tidak lagi berpikir nyamannya hidupmu tapi Indonesia, termasuk petugas bandara yang mengarahkanku tadi.

Aku juga masih bisa ngeyel. Akhirnya didatangi petugas dulu baru taat 🙈 I am sorry Lord. Terkadang hal-hal kecil  yang terjadi menunjukkan keras kepalanya kita.

Suara itu : "selamat menikmati perjalanan ini. Sambil berjalan, kapasitas hatimu harus naik". Terima kasih Bapa untuk pesannya hari ini. 

Aku duduk di kursi 6E. Pramugari mulai menjalankan tugasnya. Semua penumpang duduk tenang. Aku berkenalan dengan seorang mahasiswa semester 1 yang kuliah kesehatan di Makassar. Asal dari Seram. Wajahnya lembut dan tenang.


Aku tiba di Makassar puku 16.00 WITA. Kuambil bagasinya kemudian mencari tempat yang cukup tenang untuk mengisi jam kuliahku sore ini. Puji Tuhan tempatnya tersedia. Kuliah berakhir dengan baik. Aku harus mencari tempat untuk bermalam dan melanjutkan perjalanan besok pagi. Seru juga! Aku berpikir untuk menunggu saja di bandara karena tidak ada kenalan di kota Daeng ini. Aku menikmati perjalanan ini. 

Selesai memberikan kuliah Pasar Modal, aku membereskan tasku dan meletakkannya di trolly. Siap untuk bermalam di Kota Daeng.

Aku mampir untuk makan Cotto Makassar di Warung di Bandara. Lumayan enak, tapi masih kalah enak dari yang kumakan di Ambon kemarin. 



Setelah makan aku mencari tempat untuk duduk. Di sinilah aku berjumpa dengan seorang teman asal Surabaya yang menikah dengan orang Maluku Tenggara (Tual). Kami bercerita lumayan lama. Namanya Yuli, kuliah di Universitas Widyagama Malang. Kami seumuran. 

Tepat pukul 02.00 WITA, petugas bandara mengarahkan kami untuk melakukan validasi hasil rapid test. Antrian sangat panjang. Semua diarahkan untuk berbaris dengan teratur. Tak lama kemudian aku dan Yuli selesai. Di sinilah kami berpisah. Dia berangkat lebih dulu ke Jayapura, pukul 04.00 WITA.

Aku melanjutkan waktu menunggu jadwal check in sambil charge HPku. Tak tahan kantuk, akupun menundukkan kepala di kursi samping kananku dan tidur beberapa menit. Lumayan. Tak lama datang juga seorang bapak asal Toraja yang sama tujuan denganku. Kami antri panjang lagi untuk check in. Kali ini aku lolos dari bagasi karena kardus berisi ikan asinnya sudah aku mintai tolong untuk dilakban dengan rapi oleh petugas bandara. Aku membayar Rp 20.000,-. Tepat pukul 06.30 WITA aku sudah masuk di ruang tunggu dan duduk di ruang tunggu gate 4. Kali ini aku dapat kursi 7A. 



Oh ya, sambil menunggu, aku searching info mengenai syarat-syarat kepindahanku ke kota asal. Hati terus berguman: "Tuhan kiranya berkenan atas semua pengurusan ini..."  Perjalanan menuju Manado membutuhkan waktu 1,5 jam. Tepat pukul 10.10 kami mendarat di Bandara Sam Ratulangi Manado. Aku memesan grab bike dan segera menuju kost. 

Hati masih bergejolak memikirkan pengurusan selanjutnya. Hanya saja aku selalu ingat pesan di saat aku berdoa sebelum keluar dari rumah kemarin "Lalui semuanya dengan baik sambil naikkan kapasitas hati.." 

Jadi ingat lagu: 

Ketika Kau panggil nama-ku. Ku jawab ya Tuhanku berserah. Lewati hari-hari indah, kasih-Mu menghangatkan jiwaku. Mengabdikan seluruh hidupku. Taat dan berserah pada-Mu. Bertumbuh selalu dengan-Mu menjadi seperti-Mu itu yang selalu kurindu. Terima kasih Yesus atas panggilan-Mu. Kasih karuni-Mu mengubah hidupku. Terima kasih Yesus atas angerah-Mu. Berjalan bersama-Mu hal terindah di dalam hidupku...

Catatan perjalanan hati, 19 & 20 November 2020

(11 hari menuju bulan terakhir di tahun ini dan 42 hari menuju penutupan tahun 2020).

Yesus Tuhan!!!

(Ambon - Makassar - Manado)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018