Iman yang Hidup
Ku tengok lagi rumah mungil di puncak kota sore itu. Anak perempuan tertuanya dengan cepat membukakan pintu. Ku buka grendel gerbang teras rumah itu dan masuk. Beliau sedang tidur di kamar dengan pulas. Ku panggil Ibu. Ku letakkan tas ransel dan kue donat 🍩 dan roti gula yang ku belikan dari kios di lorong tanjakan itu. Ku buka percakapan dengan suara setengah berbisik: "bagaimana kondisi mama?" Anak tertuanya menjawab: "sedang pulas tidur. Kami berdua (dengan adiknya) lelah bekerja ngurusin ini dan itu jadi tadi sempat emosian sehingga mama berteriak dengan kami. Beliau akhirnya mengeluarkan seluruh kekuatannya". Saya kasihan mendengarnya.
Komentar
Posting Komentar