Abide in Me

Sepanjang Minggu ini saya mendapat pesan yang kuat di hati tentang “Melekat dengan AKU”. Secara pribadi, pesan ini sudah me-rhema berkali-kali dalam hidup saya. Teristimewa berada di dalam musim-musim yang cukup sulit. 

Sebagai pengantar renungan ini, saya mau berbagi sedikit kesaksian. Sebulan belakangan ini, saya ada dalam musim-musim adaptasi dengan new workplace, suatu tempat dengan budaya kerja yang baru. Mengamati dan menjalaninya, saya berkali-kali diingatkan tentang ‘Abide in Me/Melekat dengan Aku supaya kamu dapat kunci untuk membuka pintu-pintu yang mau AKU bukakan’. Saya belum tahu juga seperti apa ‘kunci’ dan ‘pintu’ itu, namun saya mau belajar taat melakukan perintah-Nya, hanya ‘melekat dengan Tuhan’.



Satu poin penting adalah semua perintah Tuhan itu berkaitan dengan menikmati janji-Nya, dan janji-Nya selalu menuju ke arah kehidupan kekal; nilai-nilai kekekalan. Jadi, kalau Tuhan menyuruh untuk melekat dengan DIA, itu berarti ada satu Janji yang Tuhan mau berikan di tempat kerja kita, ada nilai-nilai kekekalan yang Tuhan ingin kita kejar di tempat kerja ini.

1 Yohanes 2:25 & 27.

Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya kepada kita yaitu hidup yang kekal (25). Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaranNya itu benar, tidak dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia (27).

 Untuk menjadi partner kerja Tuhan, kita harus melangkah seirama dengan Tuhan, kejar hal-hal yang Tuhan sukai, jauhi hal-hal yang Tuhan tidak sukai, terobosi sesuatu bersama-sama dengan Tuhan. Tujuannya hanya satu mendatangkan nila—nilai kekekalan itu ke bumi, mendatangkan Kerajaan-Nya ke tempat di mana kita berada. Nilai-nilai Kerajaan Surga itu diturunkan ke bumi. Inilah peperangan anak-anak Tuhan belakangan ini: berjuang membalikkan keadaan yang tidak benar ke posisi yang benar. Kita sanggup melakukan itu semua jika kita melekat dengan Tuhan.

Saya mulai mengerti hal ini setelah merenung beberapa hari sampai di saat saya mengetik renungan ini. Saya percaya pemulihan di segala aspek hidup manusia dapat terjadi jika ada orang-orang yang mau ‘pasang badan’ dan ‘hancur’ demi membalikkan keadaan. Penghiburannya bagi kita adalah kita tidak berjalan sendiri. Untuk mengerjakan Agenda Ilahi, kita maju bersama Panglima Besar kita yaitu Tuhan Yesus sendiri. Kitalah para prajurit yang dipilih-Nya yang ikut di belakang Dia. Ingat, kita tidak sendiri.

Yohanes 15:16

Bukan kamu yang memilih AKU, tetapi AKU-lah yang memilih kamu. Dan AKU telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.

 


Salam Kegerakan,

Yesus Tuhan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018