Hidup dalam Agenda Ilahi

 Bacaan: Kejadian 45:1-8

NATS: Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir (Kejadian 45:7-8).

Semalam saya bermimpi bahwa di rumah saya ada banyak orang berkumpul, termasuk salah satu pegawai di kampus kami. Ibu pegawai ini datang dan membawa makanan yang sangat banyak. Setelah mengambilnya dan makan, saya kemudian menawarkan kepada orang-orang di dalam rumah. Sebagian besar adalah tetangga saya. Mereka mengambil makanan itu dan makan. Mereka tampak senang saat menerima kue itu. Suasana di dalam mimpi itu semua berkaitan dengan makanan. Saya bertanya ke Tuhan, “Tuhan, ada pesan apa dari mimpi ini?”.

Di pagi harinya, saat sedang bersiap-siap ke kampus, tiba-tiba ada seperti suara di hati berkata: “memberi makan itu sama seperti memberi harapan. Bukan soal kamu memberikan makanan untuk orang lain namun lebih dari sekedar makanan”. Makanan itu bisa berbicara soal harapan hidup. Ada pepatah yang mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa hidup tanpa harapan sedetikpun. Harapan itu bahkan lebih penting dari makanan dan minuman yang dicari-cari manusia setiap harinya. Hal esensi yang dibutuhkan manusia hari-hari ini adalah harapan hidup.

Saya rasa Tuhan tidak hanya peduli soal makan & minum kita setiap hari. Tuhan lebih peduli pada bagaimana janji-Nya dapat dinikmati oleh anak-anak-Nya. Agar janji itu menjadi nyata, Tuhan menggiring hidup Yusuf untuk masuk di dalam Agenda Ilahi-Nya. Hal ini terlihat sejak Yusuf tinggal di rumah ayahnya sampai dia tiba di Mesir. Yusuf hidup untuk mengerjakan Agenda Tuhan yaitu menjamin kelanjutan keturunan Israel di bumi (Kej. 45:7).

Agenda Tuhan itu bukan saja berbicara soal makanan dan minuman, namun bagaimana janji Ilahi-Nya dinikmati oleh anak-anak-Nya. Jauh sebelum janji itu dinyatakan, Yusuf sudah dipersiapkan. Masa-masa dipersiapkan itu bukan hal yang mudah karena Alkitab mencatat Yusuf melewati proses-proses yang tidak enak sampai saat ketika Firaun mengangkat Yusuf menjadi seorang mangkubumi. 

Saudara, untuk menyatakan janji-Nya, Allah membutuhkan orang yang mau dipakai. Orang yang mau ‘hancur’ demi menghidupi (memelihara kehidupan) orang lain. Tuhan bisa memakai semua orang, namun pertanyaannya: apakah semua orang itu mau dipakai? Saya rasa tidak. Buktinya, dari 12 anak Yakub, ternyata Yusuflah yang Tuhan pakai untuk menghidupi bangsa Mesir, Israel dan sekelilingnya. Melalui hidup satu orang Yusuf, janji Allah tergenapi. Janji penyertaan Allah atas Israel menjadi nyata. Israel dipelihara dan disertai dalam masa kelaparan bahkan sampai keluar dari tanah perbudakan (Mesir). Tanda kita mau dipakai Tuhan adalah memiliki hati yang lembut dan taat. Yusuf adalah tipe orang yang demikian.

“AGAR JANJI TUHAN DINYATAKAN, DIBUTUHKAN ORANG-ORANG YANG MAU HIDUP DI DALAM AGENDA ILAHI-NYA”





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018