Perempuan Kuat 🤍

"Nanti turun cek kapal satu kali deng rapid saja", katanya menyambut ku di meja makan pagi tadi. 

"Iya, mama. Tunggu hujan stop sadiki dolo baru katong pi", kataku.

Kami makan pagi bersama. Nasi, ikan goreng dan air putih hangat. Tak lama kemudian kakak keluar dari kamarnya. Dia ikut makan bersama kami. 

Mama lalu bercerita sedikit soal saudara yang meninggal di kampung. Dia sakit dan meninggal. Pagi tadi Mama Rai menelepon mama, menyampaikan bahwa saudara itu meninggal karena divaksin. Mama meneruskan informasi itu ke kakak dengan harapan agar mama tidak akan mau divaksin. Kakak kesal. Kakak mulai menguraikan panjang lebar soal alasan mengapa kita harus vaksin. Pertama, untuk kekebalan tubuh kita dalam menangkal virus yang semakin menyebar. Kedua, kita sebagai warga negara yang baik harus mendukung program pemerintah dan jangan termakan hoax. Mama terdiam. 

Kami menghabiskan makan pagi bersama. Aku pamit dan menuju pelabuhan Slamet Riyadi untuk mengecek kapal. Pukul 10.00 aku tiba di pelabuhan. 

"Ade, kapal jadi berangkat hari ini kah?" Aku bertanya pada seorang calon penumpang yang berada di dalam pagar pelabuhan.

"Iya, Kaka. Kapal jadi berangkat hari ini, jam 7 malam".

"Syarat berangkat apa saja e Ade?"

"Kaka siapkan kartu vaksin, hasil rapid antigen, deng kartu kuning". Dia menjawab.

"Oke nyong, danke banyak e".

Aku berlalu pergi dengan motor. Langsung menuju rumah di puncak gunung itu, Karang Panjang. 

"Kapal jadi berangkat hari ini", aku bersuara saat masuk pintu depan.

"Oh yah? Waduh.." respon kakak kaget. Berharap kapal jangan berangkat dulu karena masih ingin tinggal bersama-sama dengan mama.

"Iya, Kaka. Orang-orang su pi urus-urus tiket di pelabuhan. Kapal memang berangkat hari ini. Mama, siap-siap lalu katong pi rapid sudah. Bawa KTP dengan surat keterangan vaksin itu ee". Kataku.

Tak lama kemudian mama sudah siap. Kami pun pergi. Hujan gerimis itu mulai mereda. Pukul 10.53 WIT kami tiba di Dinas Kesehatan Kota Ambon yang berlokasi di Karang Panjang.

"Bu, ada perlu apa?" Sapa seorang pegawai Dinas Kesehatan kepada mama.

"Mau tes rapid, Ibu". Mama menjawab.

"Ooh maaf, Ibu. Layanan rapid sudah tutup jam 11. Kalau mau rapid harus datang pagi-pagi, jam 8".

Kami terdiam. Sedikit menyesal mengapa baru datang. Aku mulai berpikir tujuan alternatif. Ku putuskan ke Apotek Valentine untuk bertanya. Ternyata tepat di depan apotek itu ada RS. Valentine juga. Kami diterima untuk rapid antigen dengan membayar Rp 200.000,-. Mereka meminta KTP mama. Aku memberikannya. Ibu pegawai mengisi nama mama di buku itu. Ada beberapa orang yang juga sedang antri untuk rapid antigen. Tak lama kemudian.....

Mama sedang antri

"Ibu, silakan berjalan ke arah depan, lurus terus belok kiri", dia menunjuk jalan.

Aku menggandeng tangan mama menuju ruang rapid antigen. Di ruang kecil di bagian belakang, seorang pegawai menanti kami dengan pakaian APD lengkap. Mama diminta duduk dan dia mulai meminta ijin untuk memasukkan alat rapid ke hidung mama. Aku di belakang mama, mengelus-elus belakangnya, memastikan mama baik-baik saja. Sekitar kurang dari 1 menit, selesai. 

"Mama kaget pas dia putar alat itu di hidung", mama bercerita sambil tersenyum. Sedikit bangga karena mama sudah pernah rapid antigen. Selama ini beliau sangat takut dengan hal-hal yang ada kaitannya sama Covid-19. 

Kami bergandengan menuju tempat pendaftaran tadi. Menunggu hasil. Aku membiarkan mama menunggu hasil dan aku menuju pelabuhan untuk booking tiket. Seusai nya aku kembali ke RS. Valentine. Mama sudah menunggu di depan RS sambil memegang amplop hasil rapid. Aku membuka amplop itu dan mengecek hasilnya. Hasil rapid antigen menyatakan mama negatif. Puji Tuhan. Fix bisa beli tiket.

Aku membonceng mama dan menuju ke pelabuhan besar untuk mengambil kartu kuning. Kami melalui pintu masuk dengan membayar karcis Rp 5.000,- sesuai dengan yang tertera di karcis berwarna hijau itu. 

"Kaka, tempat untuk ambil kartu kuning di mana e", aku bertanya pada petugas loket.

"Di gedung yang kain jendela warna pink itu kaka", dia menjelaskan dengan menunjuk gedung di ujung pelabuhan besar itu.

"Oh itu ya, danke Kaka". 

Antri tidak begitu panjang. Kami selesai dan kembali lagi ke pelabuhan kecil untuk beli tiketnya. Kami masuk melalui pintu utama. Petugas menagih biaya masuk.

"Rp 8.000 untuk 2 kepala", sambil menyodorkan satu lembar karcis hijau yang bertuliskan Rp 3.000.

"Lha kok di karcis Rp 3.000?" Tanyaku.

"Iya, kalau motor Rp 8.000", katanya santai.

Aku terdiam dan sangat kesal menerima karcis darinya. Kami langsung menuju tempat penjualan tiket. 

"Tujuan mana?" Tanya petugas tanpa senyum dengan alis berkerut.

"Letti", kataku. Aku harus menjawab beberapa kali karena petugas kurang dengar.

"Rp 570.000,-", katanya.

Aku mengeluarkan uang dari dompet sambil petugas itu menulis tiket. Aku memberikan uang dan mengambil tiket darinya. Kini tiket sudah lengkap. Kami pun menuju kapal untuk mengecek tempat tidurnya. Mama mendapatkan tempat tidur nomor 374, tepat di depan pintu masuk. 

Setelah itu, kami turun dari kapal dan menuju apotek Natsepa. Kami harus membayar resep yang diberikan dokter Lily kemarin. Obat terlalu banyak itu kami bagi dua. Resep yang diambil setengah dulu. Sisanya nanti saat obat mama habis.

"Kaka, tunggu  obatnya agak lama ya karena harus diracik dulu", kata petugas Apotek ramah.

"Oh iya, Kaka. Kira-kira berapa jam? Soalnya mama mau berangkat sore ini".

"Sore sebelum berangkat, bisa datang ambil Kaka", katanya.

"Oke, danke Kaka"...

Aku menghampiri mama yang duduk di ruang tunggu luar; mengajaknya untuk pergi ke apotek Valentine lagi untuk beli obat buat tete (red: kakek). Tete susah BAB dan sakit mata. Aku menanyakan obat itu dan membelinya dengan beberapa strip Paracetamol. Kami melanjutkan perjalanan.

"Mama mau beli apa?" Tanyaku sambil mengendarai motor. 

"Mau beli sagu", jawabnya.

Aku mengantarkan mama ke tempat jual sagu di dekat jembatan PU. Kami berhenti di tempat pelanggan kami. Mama mengambil sagu, bagia, roti kenari. Selesai. 

"Masih kurang apa lagi, Ma? Mama masih mau beli apa lagi?", Terang ku.

"Beli gula", singkatnya.

"Oke, berarti ke Indo Jaya", kataku.

Aku membonceng mama menuju Indo Jaya. Kami mengambil keperluan mama dan membayar di kasir. Motor sarat dengan barang belanjaan untuk mama pulang kampung. 

Kami tiba di rumah dengan perut yang sangat lapar. Kami makan siang bersama. Seusai makan, kami membantu mama mengepak barang-barang bawaan mama. Semua berjumlah 21 potong barang ditambah titipan dari Mama Rai dan Rio. 

Sedang kami duduk, mamanya Erik datang. Beliau yang kehujanan datang dengan membawa sebuah bungkusan berisi lauk sebagai bekal untuk mama. Ah, hatiku terharu... Ku ambil mantel hujan di dalam jok motor dan memberikannya ke beliau. Beliau tidak lama karena mau melanjutkan perjalanan ke Erin, adiknya Erik. Beliau pamit dan pergi.... I thank God...

Pukul 18.00 kami menuju pelabuhan. Aku naik motor biar bisa mampir ke Apotek Natsepa untuk  ambil obat yang sudah dibayar tadi  Mama dan para pengantar (Kaka, Ina, Ma Yet, Valdy, Kaka Nixon, David) naik mobil sewaan. Kapal pun penuh sarat dengan penumpang dan pengantar. Bu Nixon, Valdy, David membantu mengikat barang-barang mama. 

Aku tiba lebih dahulu di pelabuhan. Seperti biasa masuk pelabuhan harus bayar lagi. Kali ini tarifnya naik (lagi). Pria berbadan tinggi besar memegang buku karcis berwarna hijau. Aku berhenti di dekatnya. 

"Berapa?"

"Rp 5.000 per orang".

"Wah, su Rp 5.000 Lai ka?" Protes seorang calon penumpang di belakang motor ku. 

"Iya, tadi Rp 4.000 sakarang Rp 5.000, memang keterlaluan eh", nadaku marah sambil berlalu pergi. Si petugas tetap santai dan cuek menagih dari para penumpang yang masuk ke pelabuhan. 

Aku sangat tidak suka dengan praktek curang dan memeras. Sorry to say, aku akan bertanya dulu sebelum membayar tagihan-tagihan di jalanan. Rasanya hati memberontak parah kalau hadapi hal-hal begituan. Oh Tuhan, ampuni aku. Padahal tadi di perjalanan aku ngomong sama Tuhan: "Tuhan, aku gak mau marah hari ini ya. Tuhan tau lah kalau urusan di dalam pelabuhan pasti membuat diri ini marah -__-".

Ternyata aku marah juga sama petugas tinggi besar itu... Kita lupakan itu ya... Kiranya Tuhan gantikan petugas-petugas yang curang dengan petugas yang jujur di sana..

Tak lama kemudian, mobil yang mengantar mama tiba di pelabuhan. Semua membantu angkut barang ke dalam kapal. Orang cukup banyak sore itu.

Kami mulai mengatur barang-barang mama di sekitar tempat tidurnya. Setelah sudah beres, kami duduk dan bercerita. 

Mama memberi nasihat untuk kami. Seperti biasanya, mama menangis dan kami juga sama. Kakak tertuaku masih sama, lelaki yang suka nangis kalau soal mama. 

"Ma, Jang lupa minum obat itu teratur ee. Jang pikiran-pikiran. Jang marah ee kalo ada biking salah par mama", Kaka mulai berkata-kata dengan mata berkaca-kaca.

Kulihat  mata mama mulai berkaca-kaca. Aku tak tahan juga. Kami menangis di sana. Itu seperti sudah jadi hal biasa buat kami di mana kami akan menangis jika akan berpisah. Di masa kecil sampai sudah dewasa, hal itu masih sama. 

"Jaga perhatikan makan ee Adi, kerja bae2, jang bagadang2, Jang tahan2 lapar", nasihat mama.

Aku berbisik di balik telinganya, "minta maaf eee mama"... Nangis... Itu seperti sudah jadi kebiasaan bagi kami. Minta maaf ke mama kalau sudah membuat salah.

"Kaka, cepat kasih selesai kuliah lalu pulang sudah"... Nasihat mama untuk Kakak.

Kami berfoto sebentar. Mama mencium semua para pengantar nya. Mereka pulang. Aku masih bertahan di kapal. Memastikan mama makan dan tidur dulu baru aku jalan pulang. 

Kakak tertua, mama, dan aku

Erik, Mario dan Tenggo datang juga. Mereka membantu Mario mengangkut barang-barang kiriman ke Moa. Mereka mengikat barang-barang itu di dekat tempat tidur mama. Tumpukan barang sangat banyak. Yah, namanya juga orang berangkat ya. Erik juga membawa durian untuk dikirimkan ke keluarga di kampung.

Aku mulai menyiapkan tempat yang nyaman untuk mama tidur. Setelah semua sudah beres, aku pamit untuk pulang.

"Mama, beta balik ee... Tuhan Yesus jagai mama. Sembuhkan lutut yang sakit. Mana tiba dgn aman di Letti"... Mama mencium ku dan aku pulang. 

Erik, Mario dan Tenggo menungguku di dermaga. Kami berpisah di sana. Aku pulang ke rumah mengikuti kakak dan para pasukan pengantar mama tadi. Mereka bertiga menuju tempat makan.

Hari ini antar mama sana sini untuk urusan tapi sangat tidak lelah. Malah ada sukacita besar di hati. Berkali-kali diingatkan tentang: orang tua adalah anugerah. Masih punya mama itu anugerah dari Tuhan Yesus. Harus bersukacita atasnya. Bisa antar mama ke mana-mana itu kasih karunia 

Ada satu pelajaran penting yang aku ingat-ingat terus.

"Saatnya kita yang mengerti orang tua, bukan orang tua yang mengerti kita"

Ini penggalan kisah ku hari ini. Aku pengen memotret nya dalam tulisan ini biar one day ketika baca, aku  ingat untuk tetap jadi anak yang taat pada orang tua.

Honor your father and your mother, that your days may be prolonged in the land which the Lord your God gives you" (Exodus 20:12).

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018