“Menemukan Tuhan di Hari Pertunangan”

 Minggu, 11 Juli 2021

Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita.  Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon angggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku marilah! Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu’! tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga. Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung. Sebelum angin senja berembus dan bayang-bayang menghilang, kembalilah kekasihku, berlakulah seperti kijang, atau seperti anak rusa di atas gunung-gunung tanaman rempah-rempah (Kidung Agung 2:12-17).

 

Aku mengawali tulisanku kali ini dengan ayat Kidung Agung yang didapat oleh partner rohaniku, Oneth... Waktu itu, menjelang hari lamaran / masuk minta (istilah orang Maluku), Oneth datang ke rumah dan kami mengambil waktu doa bersama di malam itu. Menjelang pukul 00.00. Sudah larut. Mata mulai kantuk, namun hati tetap berniat untuk berdoa. Ada suatu kekuatiran jangan-jangan di saat masuk ke musim yang baru ini, aku kehilangan hal-hal yang selama ini aku dapatkan, khususnya tentang perjalanan dalam visi dan mandat Ilahi. Oneth memimpin doa di puncak malam itu. Di pertengahan doa, aku tiba-tiba merasa bersukacita. Kantuk hilang, hati yang kuatir tadi berubah menjadi sukacita. Aku masih belum mengerti mengapa? Tetapi yang aku tahu, Roh Kudus yang mengerjakannya.

Hari itu, 11 Juli 2021, pukul 16.00 WIT, kami menjalani 1 hari yang selama ini kami doakan. The day that we prayed for along the years. Engangement day. Itulah hari dimana kami bersepakat di hadapan Tuhan dan keluarga besar bahwa kami akan saling menjadi pendamping hidup yang setia berjalan bersama dalam visi-Nya dan mengerjakan panggilan hidup bersama-sama selamanya.

Sedikit bersaksi....

Selama ini kami menjalani masa pacaran (LDR), kira-kira 6,5 tahun. LDR kami berakhir di saat Tuhan memberikanku mandat baru untuk dikerjakan di kota Ambon. Aku diterima bekerja sebagai seorang pendidik di salah satu kampus di Ambon. Kira-kira di bulan Februari 2021, aku mulai menjalankan tugas di kampus itu.

Seiring berjalannya waktu, kami sampai di titik keputusan untuk bertunangan. Perjalanan ups and downs yang tidak sedikit. Rekomitmen berkali-kali. Putus nyambung berkali-kali. Yah, perjalanan yang tidak hanya senang tapi juga susah. Kami melewati dan berproses bersama di bukit dan lembah. Kami saling menyelaraskan visi dan tujuan hidup. Saling mengoreksi dan memperlengkapi diri soal panggilan hidup. Tuhan baik sehingga hubungan ini masih berjalan dan bertumbuh sampai saat ini.

Awalnya, secara pribadi berpikir bagaimana mungkin ini (pertunangan) bisa terjadi. Aku seorang perempuan pemalu, selama berpacaran LDR, aku baru pernah sekali berkunjung ke rumah Erik, dua kali bertemu muka dengan mamanya, satu kali bertemu muka dengan adik laki-laki dan adik perempuannya. Aku begitu takut dengan yang namanya membawa kehidupanku masuk ke dalam kehidupannya Erik. Hal ini yang membuat aku tidak yakin bisa berada di hari pertunangan dan bahkan menikah. Aku belum cukup berani untuk itu.

Namun, selama hari-hari berlalu, sejauh itu juga aku terus berdoa agar kehendak Tuhan yang terjadi dalam hubungan ini. Dan setelah dipikir-pikir, memang inilah kehendak Tuhan yang terjadi pada waktu-Nya. Tiba-tiba saja aku mulai berani share dengan leader rohaniku, kakak mentor dan partner-partner rohaniku soal hubunganku ini. Aku mulai membawa Erik ke rumah Om dan tanteku. Yang sangat mengherankan adalah aku mulai membawa diriku pergi ke rumahnya Erik. Bagiku, ini salah satu pencapaian terbaikku di tahun ini. Aku mulai berani untuk mengurus segala sesuatu untuk acara masuk minta ini. Aku mulai berani berkorban dan bayar harga untuk segala proses persiapannya. Di saat-saat itu, tiba-tiba saja keyakinan itu datang di hatiku dan memberikan dorongan keberanian bahwa aku sudah ada di waktu-Nya untuk menjalani masa itu. Kairos-Nya. Moment-Nya.

Waktu itu tanggal 27 Juni 2021, kakak laki-laki tertuaku memutuskan untuk mengumpulkan keluarga dari pihak papa. Mereka berkumpul (Bapa Eli Elpupin, Bapa Agus Gaite, Kaka Rico Gainau, Kaka Nus Gainau, Kaka Neles Gainau, Kaka Jemmy Pangeli) dan membahas mengenai ha-hal penting saat acara masuk minta. 


Kumpul keluarga Dobo, Aru

Karena di Maluku, ada adat yang perlu kami jalani sebagai bentuk hidup anak adat, maka kami pun melangsungkan pertunangan ini setelah tata cara adat dilangsungkan.

Kami menuang arak minang dan memberikannya kepada para orang tua yang hadir.

Saat itu keluarga memintaku untuk menjelasakan kepada mereka tentang siapa Erik ini? Aku menjelaskan awal dia mulai PDKT di tahun 2014 sampai akhirnya kami memutuskan untuk bertunangan ini. Aku juga menceritakan singkat alasan mengapa aku pilih dia sebagai kekasihku waktu itu (Januari 2015). Kami benar-benar menjalani masa pacaran ketika kami belum menjadi apa-apa. Kami berproses dan diproses dari nol. Aku bilang kepada keluarga waktu itu bahwa selama ini yang aku doakan adalah :”yang penting Tuhan hadir dalam pertunangan dan pernikahanku, itu sudah cukup.” Aku tak dapat menahan air mata saat mengucapkan kalimat pendek itu. Aku menangis di depan mereka semua. Keluarga mendengar penjelasanku turut meneteskan air mata juga.

Keluarga kemudian memutuskan untuk melangsungkan masuk minta pada tanggal 11 Juli 2021, pukul 15.00 WIT. Menjelang masa-masa persiapan, aku ambil doa puasa 10 hari. Aku mulai dari tanggal 30 Juni 2021 sampai tanggal 9 Juli 2021. Tujuan doa puasa ini adalah untuk merendahkan diriku di hadapan Tuhan sebelum acara masuk minta ini. Biar mau-Nya Tuhan yang terjadi.

Awalnya, sang kakak tertua sudah mengatur rencana dengan baik (menurut pandangan manusia). Namun, yang aku lihat, rencana-rencana itu mulai berubah di sepanjang 10 hari berdoa itu. Ada 1 kejadian yang tidak akan terlupakan bagiku. Tepat di hari ke-8, ada hubungan yang dipulihkan Tuhan dalam keluarga kami. Hubungan kami dengan Bapa Bongso (Adik kandung dari Papa). Sebelumnya beliau sedang marah pada kami, namun puji Tuhan, kami berkunjung ke rumahnya waktu itu dan meminta maaf. Beliau mendoakan kami, memeluk dan menerima kami kembali. Tangis haru terjadi di antara kami malam itu. Ada hubungan yang diperbaharui. Bagiku ini satu tanda Tuhan hadir: ada damai sejahtera.

Bersama Bapa Bongso dan Mama Bongso

Tepat di hari ke-9 aku jatuh sakit. Aku tetap berdoa namun tidak kuat untuk ambil puasa lagi karena kondisi tubuh yang drop. Aku bangun subuh dan sarapan lalu minum beberapa butir obat. Aku istirahat. Di sore hari kaka Rico datang dan membantu menghitung beberapa kebutuhan untuk masuk minta ini. Tuhan hadir.

Hari ke-10 (9 Juli 2021) aku mendapat pesan di Lukas 8:1-3 tentang Perempuan-Perempuan yang melayani Yesus. Aku mengerti 1 hal pagi itu bahwa ini semua untuk menyambut Yesus hadir dalam perjamuan kawin ini. Aku harus mempersiapkan yang terbaik. Aku harus bersiap untuk melayani kehadiran Tuhan di hari itu.

Di hari ke-10 itu juga kami mendapat kabar bahwa salah satu dari keluarga Erik jatuh sakit. Memang saat ini musim-musim dimana banyak orang yang jatuh sakit. Keluarga yang sakit ini yang akan berperan sebagai juru bicara saat masuk minta. Mendengar kabar itu, aku sedikit down dan mulai malas mengurusi apa-apa lagi. Erik mulai menyemangati dan mengingatkan aku: “ini maksud yang baik dan Tuhan akan hadir, ayo semangat mempersiapkan segala sesuatu lagi”. Aku yang tadinya drop, kembali bangkit. Erik mulai mencari jubir lainnya. Puji Tuhan, ada kepala seksinya di kantor yang bersedia.

H-1 (10 Juli 2021), Oneth datang ke rumah juga dan mendoakan aku. Aku bersyukur karena ada pesan penting yg disampaikan untukku. Ayatnya ada di awal tulisan ini: tentang ‘the new beginning / musim yang baru’. Ini pesan konfirmasi dengan pesan yang aku tangkap di NFC 2021 kemarin: the new beginning: aku akan masuk di musim yang baru, akan menjejaki bukit-bukit yang baru. Habakuk 3:19 è ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

Ketika kami menyembah bersama

Selain itu, Oneth juga share tentang: ‘jangan bersembunyi, jangan diam di musim yang baru’, ada fire of love, stay strong, di musim yang baru ini jangan takut, harus sukacita’. Pesan ini sangat meneguhkan aku secara spirit, karena memang aku cenderung kuatir dan takut.

Sepanjang  tanggal 11 Juli itu, pesan murni yang kutangkap adalah kami akan saling berjuang untuk masuk dalam aliran yang sama yang selama ini aku dapati. Aliran dimana kami mencari hati Tuhan lebih dari segalanya. Aliran yang menghidupkan itu.

Bersama kedua mama tersayang kami, mama Ut (Biru) dan mama Ni (merah)

Kerinduan kami yang selama ini kami doakan bersama adalah Tuhan hadir dalam rangkaian hubungan ini sampai kepada pernikahan nanti. Dan aku melihat hal itu terjadi dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana Tuhan hadir dan menyentuh setiap hati keluaga. Dia bahkan sudah bekerja di hari sebelumnya, ketika kami dan bongso berdamai. Tidak berhenti di sana. Tuhan hadir juga dalam acara masuk minta ini saat aku melihat ada adik laki-laki dari Erik (Eron) yang turut hadir. Biasanya, dari cerita-cerita Erik, Eron tidak akan hadir di suatu acara jika ada Erik di sana. Hubungan mereka tidak begitu akur. Kali ini, dia mengantarkan kakaknya ke rumah kami untuk acara masuk minta ini. Ini tanda kedua yang aku sadari bahwa Tuhan hadir. Tanda lainnya adalah dalam forum percakapan keluarga, kakak tertuaku menangis ketika berbicara tentang bagaimana ia sangat mengasihiku. Dia berhenti berbicara karena menahan isak tangisnya. Bapa bongso juga menangis. Forum itu penuh tangisan sore itu. Kalau bukan Tuhan yang menyentuh hati manusia, siapa yang bisa menangis demikian rupa? 

Dari kiri ke kanan: Kakak tertuaku (KK Jon), Adik nya Erik (Eron), Erik, aku, kakak kedua ku (KK Jeki)

Akh, bagaimana hati ini tidak penuh dengan sukacita, Tuhan? Engkau mengerjakan seisi keluarga kami. Benarlah adanya pesan yang dibawa tentang bersukacita; karena memang Tuhan sedang bekerja lebih dari sekedar pertunangan. Ada agenda-Nya yang Dia laksanakan lewat pertunangan kemarin. Pemulihan keluarga. Aku terus berdoa, ini yang akan terus terjadi dalam keluarga kami.

Oneth memberikan ayat ini di akhir sharing dan doa kami malam itu. Bahwa apapun yang akan terjadi di depan jangan sampai memadamkan api cintaku sama Tuhan. Cinta sama Tuhan harus semakin naik setiap harinya.

With Oneth, who prayed for us before entering the engagement gate

Air yang banyak tidak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tidak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina (Kidung Agung 8:7).

 


In God’s grace, we plan to marry in December 2021. May the Lord works with His Great power and mercy. Your Kingdom Come, Your Will be done. Thank you Heavenly Father for alll things.

Asal Bapa hadir saja itu sudah cukup bagi kami.

 

 

Sincerely,

YOUR daughter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman yang Hidup

Selamat Panjang Umur ke-35, Sayang!

Terima Kasih 2018