Fase Baru
Tepat 3 Oktober 2020....
Pagi itu, Tya bergegas pagi-pagi dan menuju ke rumah bibi Rani. Di tengah gerimis dan gelapnya kota pagi itu, Tya menumpang bus kota untuk menjemput Maria di rumah Bibi Rani.
"Kak!" Sapa Tya saat tiba di rumah asri di tepi sungai kecil itu.
"Halo, sebentar ya", sambut suami dari Bibi Rani, Paman Ato. Beliau masuk ke rumah bagian dapur dan memanggil-manggil istrinya. "Mak, Mak. Tya datang". Bibi keliar dengan senyum sumringah dan cerah pagi itu. "Halo sayang. Mari duduk!"
Tya melepas jaketnya dan meletakkan tas di kursi ruang makan itu. Mereka duduk dan mulai bercakap-cakap tentang banyak hal, salah satunya tentang Maria. Hari ini dia harus ikut dengan Tya ke rumah Tya di kota ini.
Hujan deras sepanjang hari itu. Maria telah mengepak barangnya. Susunan tas telah bertumpuk di ruang makan. Pukul 22.00 mereka berpamitan dan pulang. Sebelumnya merekaa berdoa dan Maria menerima nasihat dari paman dan bibi serta keluarga lain. Saat hujan hampir reda mereka mulai mengangkut barang-barang Maria menuju jalan raya dan naik mobil ke rumah Tya.
Hari itu adalah awal bagi Tya untuk menjadi seorang ibu. Meskipun belum menikah, Tya dengan tangan terbuka menerima kehadiran Maria dalam hidupnya. Dia yakin bahwa Tuhan memiliki rencana dan alasan mengapa Maria harus dipercayakan di tangannya. Saat ini Maria tengah menjalani masa-masa belajar online. Sedari pagi bangun, dia membersihkan halaman rumah kemudian bersiap-siap untuk belajar.
Siang itu, dia mengatakan kepada Tya: "Kak, aku besok ikut lomba Cerdas-Cermat di sekolah". Kak Tya meresponinya dengan sumringah: "oh ya? Tentang apa materinya?". Dia menjawab: "Matematika, Kimia, Fisika, IPS, aturan sekolah, Ensiklopedia". Kak Tya tersenyum bangga dan menyemangatinya untuk belajar.
Itulah kisah kedua tentang Maria yang pernah ditulis di blog sebelumnya (Judul: Ini Egois atau Apa?). Bagian dari upaya mendokumentasikan cerita Tuhan dalam hidup seorang anak yatim.
Yesus Tuhan!


Komentar
Posting Komentar