Rumah Sakit
Aku berbaring di lantai sambil menatap langit-langit ruangan itu. Aku menaikkan doa bagi kesembuhan sang kakak.
Sejak subuh tadi, dia dibawa ke Rumah Sakit karena demam dan nyeri tubuhnya yang tak kunjung reda.
Setelah membaca pesan di whatsapp pagi tadi, akupun bergegas ke Rumah Sakit. Sempat kecewa dengan perawat yang melayani di IGD pagi itu.
Saya: Bu, mau tanya ruangan pasien atas nama HG di mana, ya?
Perawat: Sudah telepon orangnya?
Saya: Iya, dia memang masuk RS pagi ini.
Perawat: Iya, tapi sudah telepon belom?
Saya: Maksudnya? Telepon untuk apa?
Perawat: Ya, telepon untuk tanya dia di kamar nomor berapa?
Saya: (dengan nada agak meninggi) Saya tadi diarahkan ke sini untuk menanyakan kamar pasien.
Perawat: (Sambil membuka buku register dan mengecek nama) Berikut-berikut lagi harus telepon pasiennya dan tanya langsung di mana kamarnya.
Saya: (benar-benar kecewa dan marah) Kamu ini ya! Pasien itu sakit, tidak ada yang jagain, kamu tinggal buka buku register dan lihat nomor kamarnya aja kok gak bisa? Kakak saya itu lagi sakit! (Mataku berkaca-kaca)...
...... semua di ruangan itu menatap kami....
Perawat: (memegang gagang telepon dan mengecek keberadaan pasien atas nama HG. Ada. Dia menyampaikan padaku)... Ruangannya di 24E. Lurus dan belok kiri.
Saya: Baik, terima kasih.
Aku berlalu meninggalkan ruang IGD itu dengan hati yang tidak damai... Aku meminta ampun sama Tuhan karena sudah tidak tahan emosi pagi itu.
Setibaku di ruangan, kakak sementara berbaring dengan jarum infus tertusuk di tangannya. Aku begitu kasihan melihatnya.
Sakit bisa menyerang kita kapan saja. Kita tidak dapat mengelak darinya, kecuali jika kita menjaga kesehatan kita dengan baik.
"Sehat itu mahal sampai kita merasa sakit'..
Terima kasih Rumah Sakit yang banyak perawatnya jutek, malas dan mahal senyum. Semoga bisa lebih baik lagi melayani Indonesia :)

Komentar
Posting Komentar